• Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Hak Cipta
  • Privacy Policy
Selasa, 21 Juli 2026
Kirimi Artikel Yukk  
www.jelajah.co
No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
No Result
View All Result
Jelajah.co
No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
Home Sudut Pandang

Ketika Sang Raja Menyerahkan Mahkota kepada Anak-Anak La Masia

Redaksi by Redaksi
20 Juli 2026
in Sudut Pandang
A A
Oplus_16908288

Oplus_16908288

Share on FacebookShare on Twitter

Messi Bertahan Hingga Menit ke-120, Ferran Torres Menulis Sejarah. Malam Ketika Barcelona Tidak Benar-Benar Kalah, Hanya Berganti Generasi

Oleh: Cut Habibi (Pemimpin Redaksi Jelajah.co)

Ada malam-malam ketika sepak bola tidak sedang mencari siapa yang menang.
Ia sedang memilih siapa yang akan melanjutkan cerita.

Final Piala Dunia 2026 bukan sekadar mempertemukan Spanyol dan Argentina. Bukan hanya mempertemukan dua negara dengan sejarah sepak bola yang panjang. Lebih dari itu, final ini mempertemukan dua generasi yang lahir dari satu rumah yang sama. Rumah itu bernama Barcelona.

BACA JUGA

System Zonasi Buka Celah Kecurangan Dan Menodai Akal Sehat

16 Juli 2026
Oplus_16908288

Surat Cinta Seorang Culé kepada La Roja

15 Juli 2026

Di satu sisi, berdiri Lionel Messi.
Lelaki yang selama lebih dari dua dekade mengubah Barcelona menjadi simbol keindahan sepak bola dunia. Pemilik delapan Ballon d’Or, juara dunia, legenda yang membuat jutaan anak jatuh cinta kepada olahraga ini.

Usia boleh menyentuh angka 39 tahun, tetapi malam itu Messi tidak meminta belas kasihan.

Ia berlari, a mengejar bola, ia turun membantu pertahanan, ia memimpin rekan-rekannya hingga menit ke-120. Begitulah seorang raja menjaga mahkotanya, bukan dengan kata-kata, melainkan dengan perjuangan.

Di hadapannya berdiri wajah-wajah yang jauh lebih muda.

Lamine Yamal, Pedri, Dani Olmo, Ferran Torrer, Pau Cubarsí.

Mereka tumbuh dengan menyaksikan Lionel Messi mengenakan nomor 10 Barcelona.

Sebagian lainnya belajar sepak bola di lorong-lorong La Masia, tempat nama Messi selalu hidup dalam setiap cerita para pelatih.

Mereka tidak datang untuk melawan idola, mereka datang membawa warisan yang sama, lalu sejarah memilih tokohnya.

Bukan Lamine Yamal yang sedang dielu-elukan dunia. Bukan Pedri yang menjadi otak permainan. Bukan pula Cubarsí yang tampil tenang di lini belakang.
Sejarah justru menunjuk Ferran Torres.

Striker yang berkali-kali diragukan. Yang sering menjadi sasaran kritik. Yang acap kali dianggap bukan penyerang kelas dunia. Namun sepak bola selalu memiliki cara yang unik untuk membungkam keraguan.

Satu peluang, satu penyelesaian, satu gol dan satu trofi Piala Dunia.
Malam itu, Ferran tidak hanya mencetak gol kemenangan Spanyol, ia mengukir namanya dalam sejarah.

Sebagai seorang culé, aku tidak melihat pertandingan itu hanya sebagai duel Spanyol melawan Argentina.

Aku melihat sesuatu yang lebih emosional.
Di satu sisi, ada Lionel Messi, manusia yang membuat Barcelona mencapai puncak kejayaannya.

Di sisi lain, berdiri generasi baru yang kini memikul filosofi yang sama.

Rasanya seperti melihat seorang ayah berdiri menghadapi anak-anaknya sendiri.

Tidak ada kebencian, tidak ada dendam yang ada hanyalah estafet. Banyak orang akan mengingat final ini sebagai kemenangan Spanyol.

Aku memilih mengingatnya sebagai kemenangan sebuah filosofi.

Filosofi bahwa sepak bola tetap bisa dimenangkan dengan keberanian menguasai bola. Dengan keberanian membangun serangan. Dengan keberanian mempercayai pemain muda. Itulah warisan yang dahulu ditanam Johan Cruyff di Barcelona. Warisan yang diteruskan Pep Guardiola. Warisan yang kemudian hidup dalam diri Lionel Messi.

Dan kini, warisan itu kembali menemukan rumahnya di kaki Lamine Yamal, Pedri, Cubarsí, Ferran Torres, serta generasi baru La Roja.

Ketika peluit panjang berbunyi, Messi tertunduk, tidak ada air mata yang berlebihan.

Tidak ada drama, hanya seorang legenda yang telah memberikan segalanya hingga detik terakhir, di sisi lain para pemain Spanyol berlari memeluk satu sama lain.

Mereka bersorak, mereka menangis, mereka mengangkat trofi yang selama bertahun-tahun hanya menjadi impian.

Di momen itulah aku sadar, Lionel Messi tidak kalah dari sembarang tim.

Ia kalah dari filosofi yang pernah ia besarkan.
Dan mungkin, itulah kekalahan yang paling indah bagi seorang legenda.

Karena tidak semua raja beruntung menyaksikan anak-anaknya tumbuh menjadi penerus yang layak.
Malam itu, Barcelona sebenarnya tidak kalah.
Barcelona hanya berganti generasi.

Dan ketika Ferran Torres mengangkat kedua tangannya ke langit, sementara Lionel Messi berjalan perlahan meninggalkan lapangan setelah bertarung hingga menit ke-120, dunia menyaksikan lebih dari sekadar pergantian juara.

Dunia sedang menyaksikan sebuah mahkota berpindah dari tangan seorang raja kepada generasi yang siap menjaga warisan.

Bukan karena sang raja menyerah, tetapi karena ia telah menunjukkan jalan, dan anak-anak itu kini sanggup melanjutkan perjalanan.

Visca el Barça. Viva La Roja

Previous Post

Musda XI Golkar Barito Selatan, Edi Pratowo Targetkan Raih Lima Kursi DPRD pada Pemilu Mendatang

Next Post

Achmad Diran Mundur dari Jabatan Ketua DPW PAN Kalimantan Tengah

Redaksi

Redaksi

Redaksi www.jelajah.co

BERITA POPULER

Tikam Sepupu Saat Ritual Adat Wara, Pria di Barsel Diamankan Polisi

12 Juli 2026

HUT ke-67, Pemkab Barsel Fokus pada Kegiatan Sederhana

13 Juli 2026

Kodim 1012/Buntok Amankan Dua Terduga Pelaku Pencurian Aset PT AC, Satu Paket Diduga Sabu Turut Disita

14 Juli 2026

Ketua LPLHN Kalimantan Tengah Nanang Suhaimi Meninggal Dunia

18 Juli 2026

Pemkab Barsel Fasilitasi Penyelesaian Sengketa Lahan Dua Desa, Tim Verifikasi Segera Turun ke Lapangan

8 Juli 2026

ALAM Demo Kejati Lampung, Desak Dugaan TPPU Oknum Jaksa Diusut Transparan

10 Juli 2026
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Hak Cipta
  • Privacy Policy

© 2024 JELAJAH.CO - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper

© 2024 JELAJAH.CO - All Rights Reserved.