• Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Hak Cipta
  • Privacy Policy
Jumat, 26 Juni 2026
Kirimi Artikel Yukk  
www.jelajah.co
No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
No Result
View All Result
Jelajah.co
No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
Home Sudut Pandang

Zulhas dan Petani Singkong di Lampung

Redaksi by Redaksi
8 Mei 2025
in Sudut Pandang
A A
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Edy Sudrajat

Di kampung-kampung penghasil singkong, petani menanam dengan harapan sederhana: hidup dari hasil kerja keras mereka. Mereka menanam dengan tangan kotor, menyirami tanaman dengan doa, dan mengolah tanah dengan cinta. Tidak banyak yang mereka minta. Mereka hanya ingin harga yang adil, pasar yang stabil, dan negara yang berdiri di samping mereka—bukan menjauhkan diri, apalagi berpihak pada kepentingan asing.

Namun, ketika Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan membuka keran impor tepung singkong dan ubi dari luar negeri, harapan itu seakan terhempas. Para petani yang selama ini mengandalkan singkong sebagai mata pencaharian merasa dikhianati. Harga singkong yang merosot tajam, tengkulak yang menawar dengan harga tak manusiawi, dan biaya tanam yang semakin membengkak membuat mereka seakan berjuang sia-sia. Tanah yang seharusnya memberi kehidupan malah menjadi beban.

BACA JUGA

Andan Jejama: Spirit Kepemudaan dalam Membangun Pesawaran

19 Juni 2026
Oplus_16908288

Di Antara Teriakan Demo dan Piring Anak Sekolah

17 Juni 2026

Zulhas mengemukakan alasan bahwa kebijakan impor ini demi menjaga stabilitas harga dan memenuhi kebutuhan industri. Tapi apakah benar kebijakan ini berpihak pada petani? Ataukah yang diuntungkan adalah segelintir pemain besar yang bisa mengatur pasokan dan harga dari balik meja? Para petani kecil—orang-orang yang setiap hari membanting tulang di ladang—justru terjepit, tak mampu bersaing dengan harga impor yang lebih murah.

Petani singkong bukan mencari belas kasihan. Mereka hanya meminta keadilan. Mereka hanya ingin hasil kerja kerasnya dihargai dengan harga yang pantas. Mereka ingin tanah mereka tetap berdaya, bukan tergilas oleh kebijakan yang tak berpihak pada mereka. Namun, kebijakan yang diambil jauh dari suara mereka—dari kepedulian mereka yang sejati, yang bertumbuh di tengah keringat dan tanah yang penuh debu.

Jika keputusan dibuat dari ruang ber-AC yang jauh dari lumpur ladang, maka pengkhianatan ini akan terus berlanjut. Selama kebijakan dibuat tanpa mendengar jeritan hati para petani, maka selama itu pula perjuangan mereka akan sia-sia. Mereka hanya ingin satu hal: sebuah keadilan, agar hidup mereka tidak lagi tergantung pada ketidakpastian dan kebijakan yang bukan untuk mereka.

Kegelisahan petani singkong dengan harga tak pasti dan jelas di beli oleh pabrik, Gubernur Lampung telah melayangkan surat ke MenKo Pangan sebagai bentuk advokasi bagi petani agar harga singkong tidak murah.

Tanda tanda bahwa kebijakan pemerintah dalam hal ini MenKo Pangan Pak Zulhas masih santai dan dingin dingin saja seakan mempertegas bahwa petani singkong bukanlah sesuatu yang penting dalam mewujudkan swasembada pangan!

Previous Post

PMII Bandarlampung: Zulkifli Hasan Biang Kerok Anjloknya Harga Singkong di Lampung

Next Post

Bandar Lampung Tampilkan Pesona Budaya di Karnaval Nusantara APEKSI Surabaya

Redaksi

Redaksi

Redaksi www.jelajah.co

BERITA POPULER

Dinda Ghania Selebritas Cantik Putri Senator Senior Punya Segudang Prestasi

30 November 2025

DPP GASAK Desak Kejati dan BPK Audit Pengadaan Dinas Kominfo Pesisir Barat

16 Juni 2026

‎Lebih dari 980 Eks Karyawan KB Bank Protes Hak PHK yang Belum Tuntas ‎ ‎

24 Desember 2025

PS 98 Provinsi Lampung Dukung Ade Jona Menjadi Ketua Umum HIPMI 2026–2029

5 Juni 2026

Genangan Air Akibat Kolam Ikan, Warga Kenangan Jaya 3 Desak Satpol PP Tanjungpinang Bertindak

17 Juni 2026

Bupati LSM LIRA Malang Hadiri Sidang Lanjutan Dugaan Pembunuhan Berencana Faradila Amalia Najwa

4 Juni 2026
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Hak Cipta
  • Privacy Policy

© 2024 JELAJAH.CO - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper

© 2024 JELAJAH.CO - All Rights Reserved.