• Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Hak Cipta
  • Privacy Policy
Senin, 17 Agustus 2026
Kirimi Artikel Yukk  
www.jelajah.co
No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
No Result
View All Result
Jelajah.co
No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
Home Nusantara Lampung

Guru Besar AS Soroti Paradoks Religiusitas dan Moralitas di Indonesia

Redaksi by Redaksi
18 Juni 2026
in Lampung, Pendidikan
A A
Share on FacebookShare on Twitter

BANDAR LAMPUNG Jelajah.co – Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat religiusitas tinggi, namun kondisi tersebut dinilai belum sepenuhnya tercermin dalam moralitas kehidupan publik.

Paradoks itu menjadi sorotan Associate Professor School of International Letters and Cultures Arizona State University (ASU), Amerika Serikat, Peter Suwarno, M.A., Ph.D., dalam Guest Lecture yang digelar Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung (RIL), Kamis (18/6/2026).

Mengangkat tema “A Worshiping Nation: Why Religiosity Has Not Led to Morality in Democratic Indonesia”, Peter mengajak mahasiswa dan sivitas akademika melihat kembali hubungan antara keberagamaan dan perilaku moral dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

BACA JUGA

Oplus_16908288

Dua Bulan Berjalan, Kuasa Hukum Korban Dugaan Kekerasan Anak Minta Kapolresta Prioritaskan Perkara

14 Agustus 2026

Pasca Pembakaran Fasilitas PT BSA, Wahrul Fauzi Desak ATR/BPN Evaluasi HGU

13 Agustus 2026

Menurut Peter, tingginya aktivitas keagamaan di Indonesia belum otomatis menghasilkan kehidupan publik yang bersih dari persoalan moral, termasuk korupsi.

Ia mengutip sejumlah data yang menunjukkan Indonesia berada di peringkat ke-13 dari 181 negara dalam tingkat religiusitas. Namun, pada saat yang sama, Indonesia masih menghadapi persoalan korupsi dengan skor 34 dari 100 berdasarkan indeks persepsi korupsi yang disampaikannya.

“Indonesia bukan kekurangan orang yang beribadah, tetapi kekurangan orang yang baik,” ujar Peter.

Menurut akademisi asal Belitang, Sumatera Selatan, yang telah hampir tiga dekade berkarier di Amerika Serikat tersebut, agama tidak semestinya berhenti pada simbol dan ritual.

Nilai-nilai keagamaan, kata dia, harus diterjemahkan dalam perilaku nyata seperti kejujuran, tanggung jawab, kepedulian terhadap sesama, serta keberanian menyuarakan kebenaran ketika terjadi penyimpangan.

“Apakah ibadah yang kita lakukan membuat kita lebih peduli, lebih bertanggung jawab, dan berani berbicara ketika ada kesalahan?” katanya.

Peter menilai korupsi bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga persoalan moral yang berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat. Praktik tersebut dapat memperlebar kesenjangan sosial, melemahkan kepercayaan publik terhadap hukum dan institusi negara, serta menghambat pembangunan.

Karena itu, ia mendorong agar nilai-nilai agama tidak hanya diukur dari kesalehan pribadi, tetapi juga dari kontribusinya dalam membangun moralitas publik.

“Iman harus terlihat dalam tindakan,” tegasnya.

Dorong Budaya Akademik Internasional

Guest Lecture tersebut berlangsung di Ruang Teater Lantai 2 Gedung Academic and Research Center UIN RIL dan menghadirkan Peter Suwarno sebagai narasumber. Diskusi dimoderatori dosen Pendidikan Bahasa Inggris UIN RIL, Istiqomah Nur Rahmawati, M.Pd.

Kehadiran Peter menjadi bagian dari upaya UIN RIL memperkuat budaya akademik berwawasan internasional. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi kunjungan kelima Peter ke kampus UIN RIL dengan tema pembahasan yang berbeda pada setiap kesempatan.

Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama UIN RIL Bambang Budiwiranto, Ph.D. mengatakan, budaya akademik internasional perlu terus dibangun melalui forum-forum yang membuka ruang dialog antara mahasiswa dan akademisi dari berbagai negara.

“Academic culture, termasuk international academic culture di Indonesia, tidak mudah dibangun sehingga perlu dibiasakan,” ujar Bambang.

Menurutnya, keterbatasan anggaran tidak boleh menghentikan upaya membangun pengalaman akademik internasional bagi mahasiswa dan dosen.

Ia berharap forum tersebut tidak hanya menjadi ruang mendengarkan materi, tetapi juga mendorong mahasiswa aktif berdialog dan bertukar gagasan dengan akademisi yang memiliki pengalaman internasional.

“Kita mencoba mendapatkan insight dan dialogue of ideas. Saya berharap mahasiswa aktif berdiskusi. Mudah-mudahan kegiatan seperti ini juga mendorong mahasiswa maupun dosen untuk memiliki pengalaman akademik internasional, bahkan mengajar di luar negeri,” katanya.

Sementara itu, Ketua LPM UIN RIL Bambang Irfani, Ph.D. mengatakan, isu yang dibahas relevan dengan dunia pendidikan tinggi karena menyentuh persoalan moralitas yang berhadapan langsung dengan kehidupan masyarakat.

“Isu ini penting untuk memberikan exposure global perspective kepada mahasiswa dan mengaitkannya dengan persoalan moralitas yang menjadi perhatian bersama,” ujarnya.

Ia mengatakan sekitar 100 peserta mengikuti kegiatan tersebut. LPM UIN RIL juga berkomitmen menghadirkan lebih banyak akademisi dari berbagai negara dengan membawa isu-isu global yang relevan bagi mahasiswa dan sivitas akademika.

Melalui forum tersebut, UIN RIL tidak hanya mendorong penguatan wawasan internasional, tetapi juga membuka ruang refleksi mengenai bagaimana nilai-nilai keagamaan dapat diwujudkan dalam perilaku dan tanggung jawab di ruang publik. (Rls)

Previous Post

UIN RIL Raih Penghargaan Kampus Hijau Inklusif dan Digital

Next Post

Sat Lantas Polres Bogor Bersihkan Masjid Abdurrohman Sambut HUT Bhayangkara ke-80

Redaksi

Redaksi

Redaksi www.jelajah.co

BERITA POPULER

Warga Muara Malungai Kibarkan Bendera Merah Putih Setengah Tiang, Sampaikan Protes Kondisi Jalan Rusak; PUPR Barsel Turunkan Alat Berat

8 Agustus 2026

Pemkab Barsel Pastikan Gaji PPPK Tetap Aman Ditengah Efisiensi

11 Agustus 2026

213 Pejabat Pemkab Barsel Dilantik, 111 Promosi dan 55 Mutasi

12 Agustus 2026

Ketua LPLHN Kalimantan Tengah Nanang Suhaimi Meninggal Dunia

18 Juli 2026

Haru! Nenek 91 Tahun Hadiri Upacara 17 Agustus 2026, Didampingi Bupati dan Wakil Bupati Barsel

17 Agustus 2026

7 Bulan Hak Belum Dibayar, Eks Karyawan Tahan Unit Hauling Batubara di Barito Selatan

20 Juli 2026
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Hak Cipta
  • Privacy Policy

© 2024 JELAJAH.CO - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper

© 2024 JELAJAH.CO - All Rights Reserved.