• Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Hak Cipta
  • Privacy Policy
Minggu, 16 Agustus 2026
Kirimi Artikel Yukk  
www.jelajah.co
No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
No Result
View All Result
Jelajah.co
No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
Home Lainnya

Ketika Viking Kembali Tumbang Ditangan Inggris

Redaksi by Redaksi
12 Juli 2026
in Lainnya, Sudut Pandang
A A
Oplus_16908288

Oplus_16908288

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Cut Habibi (Pemred Jelajah.co)

Ada malam-malam ketika sepak bola terasa lebih besar daripada sembilan puluh menit, lebih panjang daripada tambahan waktu, bahkan lebih tua daripada stadion yang menjadi panggungnya.

Malam di Miami adalah salah satunya.

BACA JUGA

Pahlawan Dikenang Setahun Sekali, Lalu Dilupakan?

9 Agustus 2026
Oplus_16908288

Di Balik Tembok Pabrik: Potret Perjuangan Warga Hajimena Gerden Mencari Udara Bersih

8 Agustus 2026

Di atas rumput hijau, dua negara saling berhadapan membawa sesuatu yang tak terlihat di papan skor. Inggris datang dengan sejarah sebagai negeri yang berkali-kali dipaksa bertahan dari para penyerbu. Norwegia datang membawa bayangan bangsa yang dahulu membuat Eropa gemetar: Viking.

Memang, tak ada lagi kapal panjang yang membelah Laut Utara. Tak ada kapak, perisai bundar, ataupun helm bertanduk yang selama berabad-abad melekat dalam imajinasi tentang bangsa utara. Kini, semuanya berganti menjadi seragam merah, sepatu bola, dan sorak penonton.

Namun semangatnya terasa sama, Norwegia datang tanpa rasa takut.

Gol Andreas Schjelderup menjadi bukti bahwa mereka tidak datang sekadar memenuhi jadwal pertandingan. Mereka menyerang, memaksa Inggris bertahan, dan untuk beberapa saat membuat kemenangan tampak berada di pihak mereka.

Di sudut lapangan, Erling Haaland berdiri sebagai simbol paling mudah dikenali dari negeri itu. Tubuh tinggi, permainan keras, keberanian menantang siapa pun. Ia seolah mewarisi citra bangsa yang dahulu tak gentar menyeberangi lautan demi menaklukkan wilayah baru.

Tetapi sejarah selalu mengajarkan satu hal: menyerbu lebih mudah daripada mempertahankan kemenangan.

Inggris tidak panik, mereka bertahan, mengatur napas, lalu perlahan mengambil kembali kendali cerita.

Di tengah tekanan itulah Jude Bellingham muncul, bukan dengan pidato, bukan dengan selebrasi berlebihan. Ia hanya melakukan apa yang dilakukan para pemain besar ketika timnya membutuhkan harapan: mengubah arah pertandingan.

Gol penyama kedudukan menjelang turun minum bukan sekadar angka di papan skor. Gol itu menghidupkan kembali keyakinan Inggris sekaligus meruntuhkan kepercayaan diri Norwegia yang sebelumnya bermain begitu berani.

Sejak saat itu pertandingan berubah.

Setiap serangan dibalas. Setiap ruang ditutup. VAR, peluang yang terbuang, dan duel demi duel membuat laga terasa seperti perang yang menunggu satu kesalahan kecil untuk menentukan pemenangnya.

Dan kesalahan itu akhirnya datang pada babak tambahan waktu, bola kembali menemukan Jude Bellingham.

Gol keduanya tidak hanya memastikan kemenangan Inggris 2-1. Gol itu menjadi titik ketika seluruh tekanan, ketegangan, dan keberanian Norwegia berhenti sekaligus.

Inggris lolos ke semifinal. Norwegia harus pulang.

Hampir seribu tahun lalu, Raja Harald Hardrada berlayar menuju Inggris dengan keyakinan bahwa negeri di seberang laut itu bisa ditaklukkan. Di Stamford Bridge, ambisi tersebut berakhir bersama gugurnya sang raja.

Sejarah tentu tidak berulang secara harfiah.

Tidak ada kerajaan yang diperebutkan di Miami. Tidak ada takhta yang dipertahankan. Yang diperebutkan hanyalah satu tempat di semifinal.

Namun olahraga memiliki cara unik mempertemukan masa lalu dengan masa kini.

Kadang sebuah pertandingan hanya menjadi pertandingan.

Kadang ia berubah menjadi kisah yang mengingatkan kita bahwa identitas sebuah bangsa tetap hidup, bahkan ketika pedang telah berganti bola.

Norwegia malam itu memperlihatkan keberanian yang membuat mereka layak dihormati. Mereka menyerang tanpa gentar, memainkan sepak bola dengan keyakinan, dan memaksa Inggris bekerja hingga babak tambahan waktu.

Tetapi keberanian tidak selalu cukup. Sebab di setiap kisah tentang penaklukan, selalu ada pihak yang memilih bertahan.

Dan malam di Miami, Inggris kembali menutup gerbang dari utara.

Previous Post

Alzier Dianis Geram, Kematian Gajah Indra Sang Pahlawan Hutan Way Kambas

Next Post

KPK dan Ditreskrimsus Polda Kepri Didesak Telusuri Legalitas Tambang Timah PT CPM di Perairan Pekajang

Redaksi

Redaksi

Redaksi www.jelajah.co

BERITA POPULER

Warga Muara Malungai Kibarkan Bendera Merah Putih Setengah Tiang, Sampaikan Protes Kondisi Jalan Rusak; PUPR Barsel Turunkan Alat Berat

8 Agustus 2026

Pemkab Barsel Pastikan Gaji PPPK Tetap Aman Ditengah Efisiensi

11 Agustus 2026

213 Pejabat Pemkab Barsel Dilantik, 111 Promosi dan 55 Mutasi

12 Agustus 2026

Ketua LPLHN Kalimantan Tengah Nanang Suhaimi Meninggal Dunia

18 Juli 2026

7 Bulan Hak Belum Dibayar, Eks Karyawan Tahan Unit Hauling Batubara di Barito Selatan

20 Juli 2026

Warga Keluhkan Jalan Rusak Parah di Tabak Kanilan, Diduga Akibat Truk Sawit Bertonase Tinggi

30 Juli 2026
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Hak Cipta
  • Privacy Policy

© 2024 JELAJAH.CO - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper

© 2024 JELAJAH.CO - All Rights Reserved.