• Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Hak Cipta
  • Privacy Policy
Minggu, 18 Oktober 2026
Kirimi Artikel Yukk  
www.jelajah.co
No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
No Result
View All Result
Jelajah.co
No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
Home Sudut Pandang

Surat Cinta Seorang Culé kepada La Roja

Ketika Barcelona Tidak Pernah Benar-Benar Meninggalkan Tim Nasional Spanyol

Redaksi by Redaksi
15 Juli 2026
in Sudut Pandang
A A
Oplus_16908288

Oplus_16908288

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Cut Habibi (Pemimpin Redaksi Jelajah.co)

Aku tidak lahir di Barcelona.
Aku juga tidak tumbuh di Catalunya.
Aku hanyalah seorang anak dari negeri yang sangat jauh, yang pertama kali mengenal Barcelona dari layar televisi yang kadang buram, dari siaran yang sering terputus, dan dari nama-nama yang perlahan menjadi bagian dari masa kecilku.

Sejak saat itu, aku jatuh cinta, bukan hanya kepada klubnya, tetapi kepada cara mereka memainkan sepak bola.

BACA JUGA

Pilrek Unila 2027–2031: Jangan Loloskan Dokumen Tanpa Verifikasi

29 September 2026

Ketika Rekam Jejak Dipertaruhkan di Pilrek Unila

21 September 2026

Setiap empat tahun sekali, pertanyaan yang sama selalu datang.
“Negara mana yang kau dukung di Piala Dunia?”
Jawabanku tidak pernah berubah.
Spanyol.

Bukan karena aku memiliki darah Spanyol. Bukan karena aku pernah menginjakkan kaki di Barcelona. Aku mendukung La Roja karena aku seorang culé, sesederhana itu.

Banyak orang menganggap dukungan itu aneh. Barcelona dan tim nasional Spanyol memang memiliki hubungan yang tidak selalu sederhana. Ada sejarah panjang soal identitas, politik, dan kebangsaan di baliknya.

Tetapi aku jatuh cinta bukan pada politik, aku jatuh cinta pada sepak bolanya, pada cara bola diperlakukan sebagai sahabat, bukan musuh, pada keyakinan bahwa sebuah pertandingan bisa dimenangkan tanpa harus mengkhianati identitas sendiri.

Barcelona mengajarkanku bahwa menguasai bola bukan sekadar statistik. Itu adalah cara menghormati permainan.

Dan selama bertahun-tahun, aku melihat filosofi itu hidup bersama La Roja.
Aku tumbuh bersama Xavi Hernández.
Aku belajar tentang kesederhanaan dari Andrés Iniesta.
Aku memahami arti pengorbanan dari Sergio Busquets.
Aku menyaksikan Gerard Piqué menjaga lini belakang dengan ketenangan yang nyaris tanpa emosi.
Mereka mengenakan seragam Barcelona.
Lalu mereka mengenakan seragam merah Spanyol.

Bagiku, yang berubah hanya lambangnya, jiwanya tetap sama.

Kini generasi itu telah berlalu, namun setiap kali melihat Lamine Yamal berlari membawa bola, Pedri mengatur tempo, Olmo mengejar tanpa lelah, atau Pau Cubarsí bermain dengan keberanian yang melampaui usianya, aku merasa sedang melihat cerita lama yang ditulis ulang oleh tokoh-tokoh baru.

Barcelona belum selesai, ia hanya berganti generasi.

Dan generasi itu kini menjadi bagian penting dari perjalanan Spanyol menuju final Piala Dunia.

Lucunya, pada semifinal melawan Prancis,
Gol-gol kemenangan Spanyol bukan dicetak oleh pemain Barcelona.

Gol pertama lahir dari penalti Mikel Oyarzabal setelah pelanggaran terhadap Lamine Yamal.
Gol kedua dicetak Pedro Porro melalui kombinasi dengan Dani Olmo.
Nama di papan skor bukanlah nama-nama yang selama ini identik dengan Camp Nou.

Namun anehnya aku sama sekali tidak kecewa. Karena Barcelona tidak pernah mengajarkanku mencintai pencetak gol.
Barcelona mengajarkanku mencintai proses lahirnya sebuah gol. Mengajarkanku menikmati satu umpan sederhana yang membuka ruang. Satu gerakan tanpa bola yang tak masuk statistik. Satu sentuhan kecil yang membuat semuanya menjadi mungkin.

Di sanalah keindahan sepak bola berada.
Malam itu Prancis datang sebagai favorit.
Mereka membawa nama besar.
Mereka membawa Mbappé.
Mereka membawa pengalaman sebagai finalis dua edisi Piala Dunia sebelumnya.
Banyak orang percaya, tiket final hampir pasti menjadi milik Les Bleus.

Tetapi sepak bola selalu punya cara menertawakan kesombongan prediksi.
Spanyol tidak datang membawa status.
Mereka datang membawa keyakinan.
Mereka bermain sebagai sebuah tim.

Dan mungkin disitulah Barcelona selalu hidup, bukan pada nama pemainnya, melainkan pada keyakinan bahwa sebelas orang yang bermain sebagai satu kesatuan akan selalu lebih kuat daripada sebelas pemain hebat yang berjalan sendiri-sendiri.

Orang sering bertanya, mengapa aku begitu mencintai Barcelona? Aku tidak pernah menemukan jawaban yang benar-benar tepat.

Mungkin karena Barcelona mengajariku bahwa menang bukan satu-satunya tujuan.
Ada sesuatu yang lebih penting yaitu cara untuk menang.

Dan ketika aku melihat Spanyol memainkan sepak bola dengan keberanian, kesabaran, dan kepercayaan pada identitasnya, aku merasa sedang melihat sebagian dari pelajaran itu hidup kembali.

Suatu hari nanti, aku akan menjadi lelaki tua yang duduk di depan televisi.
Lamine Yamal mungkin telah pensiun.
Pedri tinggal nama dalam buku sejarah.
Cubarsí telah menjadi legenda yang diceritakan kepada anak-anak.
Barcelona mungkin sudah berganti beberapa generasi.
Spanyol mungkin juga tak lagi menjadi favorit.

Tetapi aku tahu, ketika seragam merah itu kembali memasuki lapangan Piala Dunia, hatiku akan tetap memilih mereka.

Bukan karena aku orang Spanyol, tetapi karena di dalam seragam itu, aku masih melihat sedikit warna biru dan merah yang membuatku jatuh cinta pada sepak bola bertahun-tahun yang lalu.

Itulah definisi paling sederhana tentang kesetiaan.
Kesetiaan kepada sebuah cara bermain.
Kesetiaan kepada sebuah filosofi.
Kesetiaan kepada cinta yang bahkan waktu pun tidak mampu mengubahnya.

Visca el Barça.

** Untuk Barcelona, dan untuk La Roja **

Previous Post

Hukum Keluarga UIN RIL Raih Akreditasi Unggul BAN-PT

Next Post

Pemkab Murung Raya Ikuti Rakor Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026

Redaksi

Redaksi

Redaksi www.jelajah.co

BERITA POPULER

PMI Asal Barito Selatan Dipulangkan dari Malaysia, BP3MI Ingatkan Warga Hindari Agen Ilegal

2 Oktober 2026

ASN Barsel Diminta Segera Pindah KTP, BKPSDM Ingatkan Batas Akhir Oktober

4 Oktober 2026

Dua Staf Bawaslu Mesuji Diamankan Polisi di Tubaba, PAJAN Desak Bawaslu Terbuka

2 Oktober 2026

Membanggakan! Siswi SMAN 1 Buntok Tembus Final Nasional AVIMSA, Wakili Kalteng ke Banjarmasin

24 September 2026

Pencarian Berakhir Duka, Rehan 13 Tahun Ditemukan Meninggal di Gosong Iring Witu Buntok

1 Oktober 2026

Kejari Barsel Dalami Dugaan Korupsi Dana Hibah KPU Rp27 Miliar, Anggaran 2023-2024 Jadi Fokus

29 September 2026
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Hak Cipta
  • Privacy Policy

© 2024 JELAJAH.CO - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper

© 2024 JELAJAH.CO - All Rights Reserved.