• Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Hak Cipta
  • Privacy Policy
Sabtu, 24 Oktober 2026
Kirimi Artikel Yukk  
www.jelajah.co
No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
No Result
View All Result
Jelajah.co
No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
  • Sudut Pandang
  • E-Paper
Home Nusantara Lampung

UIN RIL Perkuat Budaya Integritas, Rektor Tegaskan Tidak Ada Tawar-Menawar Gratifikasi

Redaksi by Redaksi
4 Juli 2026
in Lampung, Pendidikan
A A
Share on FacebookShare on Twitter

BANDAR LAMPUNG Jelajah.co – Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung (RIL) memperkuat komitmen membangun budaya integritas sekaligus mencegah praktik gratifikasi di lingkungan kampus.

Komitmen tersebut ditegaskan Rektor UIN RIL, Prof. H. Wan Jamaluddin Z., M.Ag., Ph.D., usai mengikuti Webinar Gratifikasi dalam Perspektif Agama Islam yang diselenggarakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bersama Kementerian Agama RI, Kamis (4/6/2026).

Webinar diikuti Rektor bersama jajaran pimpinan UIN RIL dari Ruang Rapat Rektor. Peserta antara lain Wakil Rektor, Dekan, Kepala dan Sekretaris Satuan Pengawasan Internal (SPI), Kepala Bagian Umum, Kepala Bagian Akademik dan Kemahasiswaan, Koordinator Keuangan, serta Ketua Tim Humas dan Kerja Sama.

BACA JUGA

Oplus_16908288

Tolak Keras Pesta Ghoib Halloween di Viper, Masyarakat Ancam Geruduk Lokasi Jika Pemkot Diam

23 Oktober 2026

Rp202 Miliar Anggaran PUPR Pesisir Barat Dipersoalkan, GASAK Siap Geruduk Kejagung-KPK

23 Oktober 2026

Menurut Wan Jamaluddin, penguatan integritas merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari identitas UIN RIL yang mengusung moto ber-ISI (Intellectuality, Spirituality, and Integrity).

“Ada budaya penegakan integritas. Tidak ada tawar-menawar, karena moto kita ber-ISI. Mari kita benahi mulai dari hal-hal kecil,” tegasnya.

Ia meminta seluruh pimpinan dan sivitas akademika menindaklanjuti pesan yang disampaikan dalam webinar dengan memperkuat tata kelola kampus yang bersih, transparan, dan berintegritas.

Webinar tersebut merupakan bagian dari upaya KPK mendorong penguatan budaya antikorupsi di perguruan tinggi melalui program Penguatan Integritas Ekosistem Perguruan Tinggi Negeri (PIEPTN).

Ketua KPK Setyo Budiyanto dalam sambutannya menekankan pentingnya keberadaan Unit Pengendali Gratifikasi (UPG) di perguruan tinggi. Menurutnya, UPG dapat menjadi sarana konsultasi sekaligus edukasi bagi sivitas akademika ketika menghadapi pemberian yang berpotensi masuk dalam kategori gratifikasi.

Ia menilai pemahaman mengenai gratifikasi masih perlu diperkuat karena pemberian tertentu kerap dianggap sebagai tanda kasih, bentuk silaturahmi, atau kebiasaan yang lazim dilakukan.

“Kami berharap seluruh kampus memiliki Unit Pengendali Gratifikasi sehingga seluruh sivitas akademika memahami apa yang harus dilakukan ketika berhadapan dengan gratifikasi,” ujar Setyo.

Menurutnya, persoalan muncul ketika pemberian tersebut berkaitan dengan kepentingan tertentu dan berpotensi memengaruhi seseorang dalam menjalankan atau tidak menjalankan kewajibannya.

Sementara itu, Menteri Agama RI Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., menegaskan bahwa praktik gratifikasi yang mengarah pada suap tidak memiliki tempat dalam ajaran agama, termasuk Islam.

Ia menjelaskan, dalam Islam terdapat konsep riswah atau suap, yakni pemberian yang dilakukan untuk memperoleh keuntungan atau kemudahan tertentu yang tidak semestinya.

“Gratifikasi tidak ada tempatnya dalam semua agama, bukan hanya dalam Islam,” tegas Nasaruddin.

Menag juga mengingatkan bahaya penyalahgunaan jabatan yang dinilainya bertentangan dengan prinsip amanah. Menurutnya, jabatan merupakan tanggung jawab yang harus dijalankan dengan integritas.

Ia turut menegaskan komitmennya menjadikan Kementerian Agama sebagai salah satu contoh dalam penguatan integritas dan pencegahan korupsi.

Wakil Ketua KPK Fitroh Rohcahyanto menambahkan, perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam membentuk budaya integritas di tengah masyarakat. Karena itu, sivitas akademika didorong untuk membiasakan diri menolak pemberian yang berpotensi menjadi gratifikasi.

“Kampus menjadi tempat yang tepat untuk membangun budaya integritas. Hal-hal yang selama ini dianggap biasa harus mulai ditiadakan,” katanya.

Fitroh juga mengingatkan bahwa gratifikasi yang diterima dalam kondisi tertentu wajib dilaporkan kepada KPK sesuai ketentuan yang berlaku.

Menurutnya, integritas yang dibangun di lingkungan pendidikan akan turut menentukan kualitas generasi dan masa depan bangsa.

“Jika ruang akademik kehilangan integritas, masa depan bangsa kehilangan pondasinya,” ujarnya.

Dalam webinar tersebut, tokoh nasional Busyro Muqoddas turut menyampaikan materi bertajuk “Gratifikasi: Virus Peluluh Karakter Bangsa.” Kegiatan juga diikuti para pimpinan perguruan tinggi dari berbagai daerah di Indonesia.

Bagi UIN RIL, penguatan budaya antigratifikasi menjadi bagian dari upaya menerjemahkan nilai Intellectuality, Spirituality, and Integrity dalam tata kelola kampus. Integritas tidak hanya ditempatkan sebagai slogan, tetapi diharapkan menjadi budaya yang dimulai dari kebiasaan dan keputusan sehari-hari seluruh sivitas akademika. (Rls)

Previous Post

Messi Ukir Sejarah Lagi! Gol ke-20 Antar Argentina Singkirkan Cape Verde di Piala Dunia 2026

Next Post

SPPG Harus Diperkuat, Bukan Dihentikan

Redaksi

Redaksi

Redaksi www.jelajah.co

BERITA POPULER

PMI Asal Barito Selatan Dipulangkan dari Malaysia, BP3MI Ingatkan Warga Hindari Agen Ilegal

2 Oktober 2026

ASN Barsel Diminta Segera Pindah KTP, BKPSDM Ingatkan Batas Akhir Oktober

4 Oktober 2026

Dua Staf Bawaslu Mesuji Diamankan Polisi di Tubaba, PAJAN Desak Bawaslu Terbuka

2 Oktober 2026

Pencarian Berakhir Duka, Rehan 13 Tahun Ditemukan Meninggal di Gosong Iring Witu Buntok

1 Oktober 2026

Kejari Barsel Dalami Dugaan Korupsi Dana Hibah KPU Rp27 Miliar, Anggaran 2023-2024 Jadi Fokus

29 September 2026

Tapis dan Piil Pesenggiri: Menjahit Masa Lalu untuk Masa Depan Lampung

11 Agustus 2025
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Hak Cipta
  • Privacy Policy

© 2024 JELAJAH.CO - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Nusantara
    • Aceh
    • Babel
    • Bali
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jabar
    • Jakarta
    • Jambi
    • Jateng
    • Jatim
    • Kalbar
    • Kalsel
    • Kaltara
    • Kalteng
    • Kaltim
    • Kepri
    • Lampung
    • Maluku
    • Malut
    • NTB
    • NTT
    • Papua
    • Riau
    • Sulbar
    • Sulsel
    • Sulteng
    • Sultra
    • Sulut
    • Sumbar
    • Sumsel
    • Sumut
    • Yogyakarta
  • Sudut Pandang
  • E-Paper

© 2024 JELAJAH.CO - All Rights Reserved.